Kamis, 10 September 2009

RENDRA
Syu'bah Asa

Rendra termasuk tokoh indonesia abad ke_20 yang sempat melihat matahari 1 januari 2000.
Akankah ia tetep besar untuk abad ke_21? Akan banyak di tentukan oleh dua hal.pertama,apakah bagian awal milaenium ketiga ini
Pertama, apakah bagian awal milenium ketiga ini, diTanah Airnya yang dia cintai, menghadapkan kepadanya tantangan dalam volume dan intensitas yang setidak-tidaknya sama dengan yang diterimanya di abad ke-20. Kalaupun di tahun 1970 ia berpindah ke agama Islam,
itu sebuah pemilihan-yang menunjukkan bahwa agama (agama apa pun yang dipilih), bagi seniman yang lahir di tengah keluarga Katolik Solo pada 7 November 1935 ini, adalah penting dan memang seharusnya. dalam periode itulah ia menghasilkan Kasidah Barzanji, sebuah kolase nyanyi-syair-gerak-warna yang belum pernah ada yang seperti itu, yang religiusitasnya (dikatakan oleh seorang penonton dari Perancis di Taman Ismail Marzuki, Jakarta) memancar-mancar ke luar dari hanya bingkai sebuah agama tertentu.
Ini naskah Sophocles yang memberi kesempatan seniman ini, antara lain dengan memanfaatkan topeng-topeng (kreasi Danarto) dalam gaya purba, menghidupkan suasana keagamaan yang begitu mistis, dan menarik dialog puitis yang bergetar dan penuh emosi antara para
dewa di langit dan manusia di Bumi ke atas panggung.
Dan juga bisa bayangan para sufi asketis (zahid), dengan masjid model Nusantara yang kuno, dengan wirid mereka yang menyebarkan suasana khusyuk setengah gaib, seperti yang dipancarkan lewat Kasidah Barzanji. Begitulah sejak awal, sejak ia menulis sajak-sajak
percintaannya yang bagus dengan Sunarti yang kemudian menjadi istrinya, dengan simbol-simbol agama Katolik seperti lonceng-lonceng gereja dan malaikat-malaikat kecil yang bergelantungan di lidah-lidahnya. Tetapi tidak bagi Rendra, yang bisa dipastikan lebih tersedot masuk ke dalam lakon ini oleh peluang yang diberikan kepadanya sebagai seorang master untuk menguasai penonton dengan koor-koor puitis, bloking-bloking agung, raungan-raungan yang mempertanyakan dan menghujat para dewa, dibanding permasalahan takdirnya, kalaupun memang ada permasalahan itu.Bedanya, bila Putu hidup akrab dengan kawan-kawan gembelnya dan cekikikan bersama mereka, sementara Arifin menyanyikan nasib para jelata dan nasib yang dihubungkannya dengan desain besar kosmis, Rendra menggebrak untuk kepentingan orang-orang terlempar itu-tidak kepada langit, atau hidup, melainkan kepada dunia, kepada lingkungan yang nyata.tu merupakan pembalikan semua norma dan kaidah akhlak yang benar di masa ketika sajak itu ditulis, yang dalam kenyataannya memang merupakan nilai-nilai riil dalam masyarakat yang munafik, tidak adil, dan bobrok.
Tidak bisa dikatakan bahwa yang kedua ini konsekuensi dari yang pertama, karena baik pemberontakan dalam rangka membela orang-orang yang tersingkirkan maupun yang dalam rangka melawan sistem tiranik, kedua-duanya lahir dari ibu kandung yang pada Rendra tampak
sebagai semangat besar kebebasan manusia dan fairness, rasa keadilan yang adalah kebenaran.
Mastodon dan Burung Kondor, yang menggemparkan karena keberaniannya memakai Gedung Olahraga Senayan, bercerita tentang gajah-gajah raksasa yang menginjak-injak rakyat dan burung-burung kebebasan, dengan tokoh pusat semacam resi atau rasul kehidupan (dimainkan Rendra sendiri), yang berkhotbah di tengah situasi kelaliman dan ketidaktentuan. Betapa pun, memang ada di dunia ini karya-karya yang jelek, misalnya karena desakan moral berujung pada politik yang "terlalu praktis", yang tetap saja terasa keluar dari seorang penyair
jenial. Toh sajak perlawanannya yang tergolong terakhir, Orang-orang Rangkasbitung, yang juga menghadapi pelarangan pembacaannya di TIM atau di tempat-tempat lain, bukan main menyentuh dan bukan main mengugah.Tetapi bila budaya yang lengser itu makin sepenuhnya digantikan spesialisasi, yang membuat semuanya terkotak-kotak dan sibuk, terobosan yang mengatassegmen akan memerlukan suatu alasan luar biasa untuk bisa, seperti yang sudah-sudah, memancarkan kiprah artistik keluar dari sekadar bingkai kesenimanan. (kutipan dari: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0002/04/dikbud/rend21.htm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar